Yosa Oktora Santono Beberkan Kajian dan Tahapan Hari Perantau Jawa Barat

149

“Untuk menyukseskan Hari Perantau Jabar ini perlu dilakukan kajian. Dan kajian itu akan menjadi agenda tentang program muatan lokal. Kajian tentang ciri khas setiap daerah, cukup membuat sample atau contoh,”

Yosa Octora Santono – Anggota Komisi I DPRD Jabar

LOGIKANEWS.COM – Anggota Fraksi Partai Demokrat, sekaligus Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jabar, Yosa Oktora Santono adalah legislator yang “keukeuh” mengajukan adanya Hari Perantau Jawa Barat (HPJ). Sebagai legislator ia pun merinci apa saja alasan diadakannya hari yang mengusung tema perantau.

Alumnus salah satu perguruan tertinggi di London tersebut juga menyebutkan langkah dan tahapan menuju HPJ. Bahkan, pria berfostur tinggi tegap tersebut juga memastikan waktu tentang proses yang harus ditempuh agar HPJ bisa menjadi pembahasan serius hingga akhirnya muncul Perda tentang HPJ.

Ditemui di rung Komisi I DPRD Jabar beberapa waktu lalu, Yosa Oktora Santono menegaskan, HPJ adalah sebuah terobosan yang lahir dari sebuah kajian, cita-cita dan niat mulia untuk masyarakat dan negara, khususnya masayarakat di Jawa Barat.

“HPJ ini terobosan. Hari Perantau Jawa Barat bisa diperingati setiap tanggal 31 akhir tahun. Setiap orang Jawa Barat yang tidak bisa kembali ke kampung halamannya dengan berbagai alasan bisa berkumpul di satu tempat. Lalu dimana tempatnya, ya di Anjungan Jabar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII),” tegas Yosa.

Yosa mengaku, sejak ia duduk di DPRD Jabar sudah pernah menyampaikan hal ini ke media. Kali ini Yosa kembali menyuarakan hal itu, karena memang suatu cita-cita membutuhkan waktu dan perjuangan. “Saya ingin mengingatkan kembali kepda masyarakat dan Gubernur Jawa Barat, Kang Emil tentang pentingnya HPJ bagi penguatan bangsa,” terangnya.

Untuk mewujudkan lahirnya HPJ, Yosa mengatakan sudah menyampaikan gagasan tersebut ke Komisi I DPRD Jabar dan langsung ke Gubernur Jabar. Langkah selanjutnya, Yosa menekan agar hal ini dibahas secara serius dengan dinas terkait, yaitu Badan Penghubung Jawa Barat.

“Ini ide, cita-cita dan gagasan saya sejak lama. Menurut saya, peradaban satu daerah itu harus kita ketahui dimulai darimana, basicnya apa dan yang memperkuatnya itu apa saja. Kemudian bingkainya apa. Dan endingnya, bingkai suatu daerah harus tertuju pada kesatuan dan persatuan yang kokoh. Dan HPJ yang saya perjuangkan itu menjadi suatu kesatuan pada bingkai kekuatan suatu daerah,” katanya.

Butuh Waktu Bertahun-Tahun Agar HPJ Bisa Terealisasi

Anggota Fraksi Partai Demokrat sekaligus Anggota Komisi I DPRD Jabar ini mengaku target terwujudnya HPJ harus melewati lima tahapan. Pertama, Komisi I DPRD Jabar mengundang para anggota dewan untuk memberikan masukan sesuai dapil masing-masing. “Dari sana akan diperoleh kesimpulannya, lalu beri rekomendasi dari ketua komisi. Selanjutnya kita bicara dengan Badan Penghubung Jabar,” katanya.

Tahap kedua, sambung Yosa, membuat rapat gabungan antara para perantau, anggota dewan dan Badan Penghubung, setelah itu baru dirumuskan. “Lalu apa saja rumusannya, pertama membuat kegiatan bersama, yang sederhana saja. Kedua, rumuskan kegiatan tersebut menjadi agenda rutin dan terakhir ciptakan konsep HPJ. Ketiga bawa ke ruang Bamus, supaya nanti dapat diagendakan penerbitan Perda Hari Perantau Jabar,” katanya.

Selain itu, Yosa menambahkan, ada satu tahapan yang tidak kalah penting yakni eksekusi. Dalam hal ini pupuhu Jabar dan perwakilan perantau Jabar dikumpulkan, seperti kades, camat dan bupati atau walikota serta gubernur.

“Bicarakan tentang HPJ. Kita masukan tanggalnya tanggal berapa, muatan lokalnya apa, kemudian akan dilakukan seperti apa dan membutuhkan anggaran berapa. Yang terakhir atau finalnya, bicarakan dengan Gubernur, bersama-sama kita kita resmikan, lalu dari sana lahirlah Hari Perantau Jabar. Targetnya dua tahun setengah, program ini bisa terealisasi,” ungkap Yosa.

Yosa Oktora Santono juga mengatakan, sebagai wakil rakyat dirinya sudah membahas pentingnya kajian sebagai salah satu proses menuju terbentuknya HPJ (Hari Perantau Jawa Barat). Dan itu sudah ia lakukan dengan beberapa paguyuban di Kuningan dan Ciamis.

“Untuk menyukseskan Hari Perantau Jabar ini perlu dilakukan kajian. Dan kajian itu akan menjadi agenda tentang program muatan lokal. Kajian tentang ciri khas setiap daerah, cukup membuat sample atau contoh,” tukas Yosa.

Yosa pun mencontohkan warga Kuningan. Menurut Yosa, warga Kuningan akan mudik sebanyak tiga kali dalam setahun. Mudik Idul Fitri, Idul Adha dan Tahun Baru. Setiap kali mudik mayoritas pemudik akan membawa uang atau hasil kerja dari perantauan ke kampung halaman.

Semisal satu orang perantau membawa uang sebanyak Satu Juta Rupiah. Walau nilainya tidak terlalu besar, tetapi kalau dikumpulkan, perputaran itu akan menjadi besar. Contoh satu juta dikalikan 300 orang.

“Berapa uang yang akan berputar selama satu kali mudik. Ratusan juta uang akan bergerak di Kuningan. Dan perputaran ini yang jarang dipikirkan. Padahal, nilai positif dari perputaran uang ini dampaknya menjadi besar dan bermanfaat bagi banyak pihak,” katanya.

Apabila, sambung Yosa, uang ratusan juta ini berputar di suatu daerah sebanyak tiga kali dalam setahun, maka apa yang akan terjadi. Sendi-sendi pergerakan ekonomi akan terus berjalan dan meningkatkan kesejahteraan di lingkungan masyarakat.

“Dari HPJ yang saya gagas diantaranya ada esensi ini, perputaran uang. Apabila di Anjungan Jawa Barat TMII ada ratusan orang datang, mereka akan belanja, berinteraksi, bersilaturahmi dan hal positif lainnya, maka banyak nilai positif yang bisa dipetik. Ujung-ujungnya PAD Jawa Barat akan mengalami kenaikan yang signifikan,” jelas Yosa.

Yosa menyebutkan, Kabupaten Kuningan PAD nya cukup kecil dibandingkan dengan daerah lainnya. Justru DAU nya yang lebih besar, yakni mencapai 65 persen dari APBD. Ini fakta ril dan tiap tahun terjadi seperti itu.

“Tetapi, kenapa Kuningan tidak bangkrut-bangkrut seperti Kota Detroit, Michigan, Amerika Serikat. Detroit negara kaya tetapi bangkrut. Pasti ada sesuatu anomali yang harus dipelajari, bahwa APBD tidak berbanding lurus dengan kenyataan dilapangan, bahkan terbalik. Di Kuningan banyak perantau yang membawa rupiah ke kampunya sehingga menambah pergerakan ekonomi di tingkat bawah,” paparnya. (asep ahmad)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More