Yogi Iskandar: Masa Sih Karyawan PT Condong Garut Tidak Mendaftarkan Karyawannya ke BPJS..??

110

 

LOGIKANEWS.COM – PT. Condong Garut merupakan salah satu perusahaan perkebunan dan pengolahan sawit terbesar di Kabupaten Garut.

Ribuan hektar tanah yang dikuasai PT Condong Garut terletak di beberapa wilayah kecamatan di Garut Selatan dan ditanami pohon sawit dan pohon karet.

Perusahaan yang selama puluhan tahun telah memberikan pekerjaan dan pendapatan bagi mt tersebut kini diterpa tudingan tak sedap.

Perusahaan ini diduga tidak mendaftarkan kepesertaan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) beberapa orang karyawannya, sehingga karyawan tersebut mengeluhkan hal itu aktivis di Kabupaten Garut, Yogi Iskandar.

Menurut Yogi Iskandar, disaat menanyakan dan ingin mencairkan klaim BPJS ketenagakerjaan, diantaranya hak jaminan hari tua (JHT) maupun jaminan pensiun (JP) yang ada dalam fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, katanya beberapa mantan karyawan PT Condong Garut tidak terdaftar.

“Mantan karyawan PT Condong Garut itu telah cukup lama bekerja di perusahaan. Namun, ternyata diketahui jika dirinya tidak terdaftar dalam kepesertaan BPJS Ketenagperusahaan,” ungkap Yogi, Rabu (08/04/2021).

Yogi pun mengatakan, mantan karyawan PT Condong Garut itupun tidak memiliki maupun diberitahukan kartu atau nomor premi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

“Saya akan menjadi pendamping dan memberikan advokasi kepada karyawan PT Condong ini,” tandasnya.

Yogi menegaskan, pemerintah Indonesia memiliki program untuk menjamin kesejahteraan para pekerja, yaitu Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS).

“Pasal 1 angka 8 UU BPJS, memberi pengertian pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lain. Sehingga, sesorang yang telah menerima gaji, upah, atau imbalan dari pemberi kerja, maka disebut sebagai pekerja,” ungkap Yogi.

Yogi Iskandar menjelaskan, dalam Pasal 1 angka 9 UU BPJS, pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja atau penyelenggara negara yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lainnya.

“Setiap pekerja, termasuk tenaga kerja asing yang bekerja paling singkat 6 bulan di Indonesia, wajib menjadi perserta program jaminan sosial. Ini diatur dalam Pasal 14 UU BPJS),” tegasnya.

Pekerja yang terdaftar sebagai peserta BPJS akan mendapatkan jaminan ketenagakerjaan diantaranya Jaminan Kecelakan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kesehatan Nasional.

Pengusaha memiliki kewajiban untuk mendaftarkan pekerjanya dalam program jaminan sosial.

“Karyawan PT Condong ini telah lama bekerja, bahkan diatas 5 tahun. PT. Condong pun telah memiliki karyawan berjumlah ribuan orang. Jadi, sudah tidak ada lagi alasan bagi perusahaan tidak mendaftarkan karyawannya di kepesertaan BPJS,” ungkapnya.

Menurut Yogi, besaran pembayaran iuran BPJS yang bekerja di sektor swasta masuk dalam golongan Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) yang bekerja di sektor swasta hanya dibebani iuran sebesar 5% dari gaji bulanan, itupun 4% dibayar perusahaan dan 1% dibayar peserta.

“Masa sih perusahaan sekelas PT Condong Garut tidak memiliki kemampuan untuk membayar iuran BPJS. Untuk itu saya akan menyampaikan dugaan ini ke DPRD Garut,” jelasnya.

DPRD harus melakukan fungsi pengawasannya. Selain mempertimbangkan gugatan, kita juga akan audensi persoalan ini ke DPRD Garut, agar DPRD melakukan fungsi pengawasan,” bebernya.

Terpisah, melalui pesan aplikasi, Syam Yousef SH, MH., selaku kuasa hukum PT Condong Garut saat menjawab konfirmasi wartawan mengaku belum mengetahui rumor karyawan PT Condong Garut belum mendaftarkan karyawannya ke BPJS.

“Saya belum mengetahuinya. Nanti ya, saya akan koordinasikan dulu dengan manajemen. Mudah-mudahan tudingan itu tidak benar,” katanya.

Sebelumnya, perusahaan yang sudah berdiri sejak puluhan tahun silam ini disebut-sebut terlambat memberikan hak karyawannya. Namun pihak perusahaan pun terus bertahap memberikan gaji yang telat. (Asep Ahmad)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More