Warga Garut di Daerah Ini Sukses Sulap Irigasi Kotor Bau dan Penuh Sampah Jadi “Rumah” Ikan Tawar

512

 

Kabid SDA Dinas PUPR Kabupaten Garut, Edy Kuntoro, ST.,MT. (Ft: Asep Ahmad)

LOGIKANEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Garut, melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) dan pihak kelurahan setempat mengaku sangat bangga atas kreativitas, kerja keras dan semangat masyarakat di Kampung Pasantren Sukadana RW 21 Kelurahan Kota Kulon, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Pasalnya, masyarakat di daerah ini telah sukses membantu pemerintah dalam penanganan sampah serta menata irigasi yang sudah kotor menjadi bersih dan nyaman. Bukan hanya itu saja, irigasi yang kotor, penuh sampah dan tumpukan lumpur yang disertai rumput dan ilalang menjadi “rumah” ikan tawar.

Jaringan irigasi yang sudah dijadikan tempat sampah oleh warga selama puluhan tahun itu menjadi bersih dan percontohan bagi warga Garut. Dengan adanya “rumah” ikan, irigasi ini memberikan penghasilan tambahan bagi warga dan tentu menjadi pemandangan yang enak dipandang. Selain dipenuhi ikan tawar, juga menjadi sarana publik yang mempesona.

 

SULAP: Jalan dan Sungai Jaringan Irigasi yang semula kotor, bau dan seram kini menjadi sangat asri dan indah. Nampak warga dan pejabat Dinas PUPR, para ibu-ibu kader dan pihak kelurahan sedang gotong royong menanam aneka tanaman untuk menghiasi area sungai. (Ft: Asep Ahmad)

Tembok-tembok di sekitar sungai yang awalnya befungsi sebagai irigasi diberikan warna yang mencolok sehingga tampil cantik. Lahan di sekitar sungai ditanami aneka tumbuhan, sehingga nampak asri dan indah. Serta sungai yang bersih diberikan sekat-sekat untuk budidaya ikan, sehingga saluran air ini menjadi ternak ikan yang bermanfaat bagi warga sekitar

Warga Kp Pasantren yang dipercaya sebagai Ketua RW 21 Kelurahan Kota Kulon, Kabupaten Garut, Ajat Sudrajat mengatakan, warga di daerahnya mendirikan sebuah kelompok bernama Barokah Sepuh yang dinahkodai Tatang Suherman. Awalnya kelompok ini gencar melakukan sosialisasi penangulangan sampah.

“Kami semua meminta masyarakat jangan lagi membuang sampah ke sungai dan irigasi. Karena sampah-sampah yang dibuang itu akan memberikan dampak negatif kepada lingkungan sekitar. Sampah akan membuat sungai kotor, bau dan membahayakan kelangsungan hidup. Bahkan, sampah-sampah yang terbawa aliran air, suatu saat akan menjadi penyebab banjir,” ujar Ajat saat ditanya program awal yang dilakukan warga setempat sebelum sukses memberdayakan irigasi, Selasa (30/03/2021).

PANEN IKAN: Warga bersama-sama datang ke irigasi yang dirubah menjadi “rumah” ikan tawar dan memanen hasil ternaknya. Alhasil ikan yang mereka peroleh cukup banyak. Ini memperlihatkan Program Sariban yang digalakan melalui Kelompok Barokah Sepuh sukses. Nampak juga bagian tembok sungai terlihat warna-warni sebagai wujud kreativitas warga mewujudkan kebersihan dan keindahan di daerahnya. (Ft: Asep Ahmad)

Sosialisasi larangan membuang sampah yang digalakan kelompok Barokah Sepuh memang tidak mudah. Banyak pertentangan dari berbagai pihak yang berfikir perjuangannya menyelamatkan sungai dan irigasi akan cuma-cuma. Bahkan, untuk mengurus dan merawat irigasi merupakan kewenangan pemerintah.

“Kendala melarang membuang sampah ke sungai itu cukup besar, karena sepertinya memindahkan sampah dari rumah ke sungai itu sudah menjadi kebiasaan sebagian orang. Bahkan ada juga yang menganggap bahwa menjaga kebersihan sungai dan irigasi adalah tugas pemerintah. Ini paradigma yang harus dirubah, karena menjaga kebersihan dan keselatamatan lingkungan adalah tugas bersama, bukan hanya tugas pemerintah saja,” tandasnya.

Selama dua tahun, Ajat dan Kelompok Barokah Sepuh terus melakukan beragam aksi, dengan tujuan lingkungan di sekitarnya menjadi bersih dan nyaman, sekaligus memberikan pemahaman kepada semua elemen masyarakat bahwa sungai dan irigasi bisa difungsikan untuk hal-hal yang bermanfaat.

“Kebiasaan warga membersihkan irigasi akan memiliki manfaat luas, salah satunya irigasi bisa difungsikan untuk budi daya ikan. Yang tadinya budaya membuang sampah, kini tercover oleh kegiatan Sariban di wilayah kita sendiri,” papar Ajat.

Munculnya Kelompok Sariban dan Saraba Sahate

Keinginan merubah pola pikir masyarakat, yang tadinya terbiasa seenaknya membuang sampah kini sudah terwujud. Ini menjadi rasa syukur yang tak terhingga bagi Ajat dan warga masyarakat di RW 21 dan sekitarnya. Setelah kebiasaan buruk itu sirna, maka keadaan sungai yang berfungsi sebagai irigasi tersebut menjadi bersih dan lebih tertata.

Ketika kondisi sungai terlihat nyaman, akhirnya Pak RW Ajat dan kelompok berkumpul untuk mengadakan musyawarah dan membuat program Sariban (Sarana Irigasi Budi Daya Ikan). Dari program ini, awal-awalnya warga hanya membuat sekat sepanjang 30 meter dibagi tiga sekat. Satu sekat terdiri dari 10 meter.

Upaya kelompok ini ternyata membuahkan hasil. Dari tiga sekat ini memberikan hasil yang cukup membanggakan. Semangat pun kian berkobar dan program Sariban terus berkembang. Kesuksesan Program Sariban mendapat sorotan dari warga lainnya dan akhirnya mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama dari Dinas PUPR dan Lurah Kelurahan Kota Kulon.

“Dari pihak-pihak yang datang dan memberikan dukungan kepada kami, juga memberikan ide dan gagasan baru. Dukungan dari berbagai pihak sangat membantu kami dan telah membantu perjuangan masyarakat. Program yang kami lakukan sejalan dengan program Saraba Sahate dari Pak Kabid SDA dinas PUPR,” papar Ajat.

Kegiatan penataan sungai dan penanaman ikan di irigasi diawali sekitar dua tahun lalu dan terakhir tanggal 19 Juli 2020. Pada kegiatan akhir, Ajat dan kelompoknya melakukan kegiatan bebersih dengan mengundang RW-RW lain guna meminimalisir kegiatan negatif masyarakat yaitu membuang sampah ke sungai. “Banyak pihak yang datang dan memberikan dukungan,” ucap RW Ajat.

Puluhan Tahun Sungai Jadi Pembuangan Sampah

Sebelum sukses menjalankan Program Sariban, RW Ajat kembali mengingat masa lalu, dimana masyarakat banyak yang membuang sampah ke sungai. Selama puluhan tahun lamanya prilaku itu terjadi, sehingga keberadaan sampah sudah sangat banyak dan mengganggu kenyamanan. keberadaan sampah saat itu tidak bisa ditangani.

“Dengan adanya gerakan larangan membuang sampah ke sungai dan program Sariban masalah sampai bisa teratasi. Alhamdulillah sampah bertumpuk dapat diminimalisir. Saya kembali ingat dengan tekad dan menjadi slogan pribadi saya, “Siapa Paling kuat, Kamu Membuang Sampah dan Saya yang Membersihkannya”. Akhirnya terbukti hari ini, sungai dan irigasi menjadi bersih,” ungkap Ajat bangga.

Apresiasi Pihak Pemerintah

Lurah Kelurahan Kota Kulon, Dede Nasir, S.E mengatakan, sebagai pemimpin dari unsur pemerintah yang langsung berhadapan dengan masyarakat, dirinya mengaku sangat tertarik dan sangat mendorong serta mendukung aktivitas dan kreativitas warganya.

“Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mendorong aktivitas masyarakat, terutama menyelesaikan persoalan sampah yang menjadi PR besar pemerintah. Sampah kini menjadi musuh bersama. Bukan hanya di Garut, bahkan kasus sampah menjadi persoalan di dunia internasional,” tegas Dede Nasir.

Menurutnya, ketika Ketua RW 21 dan Kelompok Barokah Sepuh menginisiasi gerakan larangan membuang sampah dan Sariban, maka pihaknya pun menghimbau semua elemen masyarakat dan mengundang seluruh RW untuk melihat langsung gerakan ini.

“Bagaimana cara membersihkan sampah di sungai dan sekitarnya menjadi sesuatu yang menarik, maka saya mengundang semua RW dan diminta untuk meniru RW 21. Setelah perkumpulan itu program ini terus berkembang. Sampai saat ini, bekas irigasi kini menjadi sarana budaya ikan,” terangnya.

Menoleh waktu ke belakang, sambung Dede Nasir, dahulu keadaan sungai di RW 21 sangat kotor, seram dan menakutkan. Karena kotor dan gelap karena banyak dipenuhi rumput, sampah dan ilalang. Saat ini menjadi bersih dan nyaman.

“Betul kata Pak RW Ajat, koordinasi dengan berbagai pihak, maka harapan warga bisa terelasisasi. Alhamdulillah kegiatan ini menjadi edukasi dan terealisasi dengan baik. Masyarakat mulai sadar untuk tidak membuang sampah. Bahkan sungai ini menjadi bersih, bermanfaat, tidak banjir dan terasa nyaman. Ketika hulu sungai bersih,  maka dihilirnya pun tidak terjadi banjir,” paparnya.

Selain itu, tegas Dede Nasir, pihak kelurahan mulai mensosialisasikan juga gerakan untuk tidak membuang tinja ke sungai. Dirinya mencanangkan ODF (Open Defecation Free), dan kini sudah mulai berjalan.

“Melalui ODF ini masyarakat diharuskan memiliki saftey tank sebagai tempat pembuangan tinja. Sehingga tinja tidak dibuang ke sungai juga,” jelasnya.

Program Saraba Sahate Dinas PUPR

Sementara itu, Kabid SDA Dinas PUPR Kabupaten Garut, Edy Kuntoro ST, MT mengatakan, potensi pengembangan sarana irigasi masih luas, maka Dinas PUPR akan mendampingi masyarakat dan melakukan penataan lingkungan irigasi dan sekitarnya.

“Kita akan tata lingkungan sekitarnya, sehingga masyarakat lebih nyaman. Jalan inipun merupakan salah satu akses utama menuju Wisata Konservasi Talangseng. Orang jalan kaki menuju Talangseng melalui jalur ini,” jelas Edy Kuntoro.

Ditegaskannya, Dinas PUPR membantu program masyarakat dengan menjalankan Program Saraba Sahate (Saluran Bebas Sampah Sehat Sejahtera) dan Program ODF di Kelurahan Kota Kulon. Pihak Pemkab Garut sangat mengapresiasi dan berterimakasih atas dedikasi masyarakat yang turut serta menjaga kelestarian lingkungannya.

“Aktivitas masyarakat yang melarang membuang sampah ke sungai dan membuat sarana irigasi budi daya ikan selaras dengan Program kami yakni Saraba Sahate. Ayo kita selalu jaga Saraba Sahate, kita lestarikan dan kita tularkan ke tempat lain. Saraba Sahate, saluran bebas sampah sehat sejahtera,” ungkap Edy Kuntoro dengan ditimpali kalimat Yes oleh Ketua RW 21, Ajat Sudrajat dan Lurah Kota Kulon, Dede Nasir.

Edy Kuntoro menambahkan, suksesnya inovasi ini tidak terlepas atas peranan dan dukungan dari berbagai pihak diantaranya Dinas Peternakan dan Perikanan (Diskanak), Dinas Pertanian, komunitas peduli lingkungan Ecovillage. “Sinergitas dan kolaborasi pihak-pihak yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap lingkungan menjadi penentu suksesnya program ini,” pungkasnya.

Ketua Kelompok Tatang Suherman (menggunakan peci putih) berfoto bersama dengan masyarakat dan aparat setempat.

Di waktu berbeda, Ketua Kelompok Barokah Sepuh, Tatang Suherman mengatakan, dirinya memohon maaf karena pada kegiatan di hari Selasa (30/03/2021) bersama Diskominfo, Dinas PUPR dan Kelurahan Kota Kulon dirinya tidak bisa menghadiri kegiatan. Pasalnya, dia harus menemani istri tercintanya di rumah sakit.

“Saya mohon maaf atas ketidakhadiran saya di acara kegiatan bersama dinas tempo hari, karena ada sesuatu yang urgen. Perlu saya sampaikan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada para pihak yang telah membantu kegiatan kami selama ini,” ucap Tatang kepada media ini, Minggu (04/04/2021).

Menurut pengakuan Tatang, pihak-pihak yang selama ini telah membantu menjalankan program di daerahnya diantaranya Dinas PUPR, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota dan Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Garut dan Ecovillage.

“Kami atas nama kelompok dan warga masyarakat merasa terbantu atas kehadiran para pihak yang memberikan semangat dan motivasi kepada kami selama ini,” tutupnya.

(Asep Ahmad)  

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More