Tokoh Advokat di Indonesia Didukung Ratusan Advokat Muda Bersatu Wujudkan Dewan Kehormatan

202

LOGIKANEWS.COMSejumlah tokoh advokat dan ratusan advokat muda di Indonesia berkumpul di Hotel Horison Bandung, Jawa Barat. Berkumpulnya sosok-sosok ahli di bidang hukum tersebut menjadi peristiwa penting dan bersejarah di Indonesia. Pasalnya, para advokat ini tengah mengusung sebuah wadah sekaligus regulasi yang bertujuan untuk menyatukan serta meningkatkan profesionalisme para advokat di masa mendatang.

Regulasi yang dibahas oleh para pakar serta pengacara muda di Indonesia itu adalah dibentuknya Dewan Kehormatan. Melalui Dewan Kehormatan tersebut, para advokat yang tergabung di The BLCI (Best Lawyers Club Indonesia) ini optimis akan menjadi sebuah lembaga yang akan membantu masyarakat.

Presiden The BLCI Presiden dan Sekjen The BLCI, Dr. Iur. Liona Nanang Supriatna, SH., M.Hum didampingi pengurus The BLCI foto bersama. Ft: asep ahmad

Presiden dan Sekjen The BLCI, Dr. Iur. Liona Nanang Supriatna, SH., M.Hum dan Dr. L. Alfies Sihombing, SH., MH., MM., CPR, CLA, M.I.Kom, CTCL, Med, ACIArb mengatakan, The BLC optimis Dewan Kehormatan bisa terwujud, karena mau tidak mau di Indonesia harus ada Dewan Kehormatan.

“Agar tertib, maka harus dibentuk Dewan Kehormatan untuk seluruh advokat di Indonesia. Menurut kami ini adalah wajib dan suatu saat akan terbentuk. Kami akan terus berjuang dan kami sangat optimis lembaga ini akan segera terbentuk,” ujar Liona Nanang Supriatna saat di konfirmasi Majalah Logika, usai perayaan HUT ke 6 The BLCI, di Hotel Horison Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/062022) .

Menurut Liona Nanang Supriatna, saat ini terjadi perpecahan diantara advokat. Perpecahan itu terjadi karena masing-masing advokat mempertahankan ego organisasi advokat, baik secara organisasi maupun secara individu.

“Semua merasa paling benar, merasa paling hebat sehingga terjadi bentrokan atau kesalahpahaman. Menurut saya semuanya harus dilandasi dengan kasih sayang, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain. Tanpa adanya cinta kasih dan saling menghormati tidak mungkin terjadi perdamaian,” tegas Liona Nanang Supriatna.

Kedamaian, lanjut Liona, akan terjadi kalau bisa menganggap semua advokat ini adalah saudara. Dalam dunia advokat ada perbedaan tetapi dalam kesatuan.

Advokat yang tergabung di The Best Lawyers Club Indonesia (The BLCI) merayakan HUT ke 6 di Hotel Horison Bandung, Jumat (17/06/2022).

Marwah Advokat Sebagai Profesi Mulia

“Dalam kesatuan tapi juga dalam perbedaan. Itu yang harus kita tanamkan. Jadi, advokat yang terhimpun di The Best BLCI ini adalah menghilangkan sekat-sekat OA demi terwujudnya marwah advokat sebagai profesi yang sangat mulia,” tandasnya.

Liona Nanang Supriatna juga menegaskan, karena perpecahan diantara advokat, maka akan menimbulkan dampak negatif yang sangat besar. Secara langsung akan merugikan masyarakat yang mencari keadilan. Ketika advokat yang merugikan masyarakat kemudian diadukan ke dewan kehormatan, lalu diberikan sangsi oleh salah satu organisasi, kemdudian malah pindah ke organisasi yang lain.

“Maka jelas, ini akan merugikan masyarakat. Seharusnya sangsi itu ditaati, misalnya advokat yang melanggar kode etik tidak boleh berpraktek sebagai advokat selama satu tahun, tapi ternyata sangsi ini tidak bisa dijalankan, karena oknum ini telah pindah organisasi. Itu dampak langsung kepada masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, papar Liona, hal yang merugikan kepada advokatnya itu sendiri adalah ketika ada advokat yang memiliki semangat yang tinggi untuk menjalankan profesi yang sangat mulia, ternyata malah terjadi gontok-gontokan diantara advokat sendiri.

“Tentu ini akan membunuh karakter advokat, yang ingin menjadi advokat serta memahami profesi advokat untuk menegakan keadilan. Untuk itu, semua advokat harus mengingat dan mengimplementasikan tentang kode etik advokat serta mempertahankan marwah advokat yang sebenarnya. Jalankan profesi advokat guna membela keadilan untuk masyarakat dan keadilan dalam profesi hukum,” paparnya.

Liona menilai pemerintah sangat menghargai profesi advokat, tidak ikut campur dan melakukan intervensi terhadap keberadaan OA (orgsnisasi advokat). Pemerintah memberikan kebebasan kepada profesi advokat. Ini berarti, sangat tergantung kepada organisasinya itu sendiri.

“Pemerintah Indonesia sudah sangat profesional. Pemerintah memberikan kebebasan kepada advokat di negara yang kita cintai ini. Sekarang yang harus kita lakukan adalah, mau atau tidak kita duduk bersama, untuk membicarakan advokat dimasa yang akan datang,” tegasnya. (asep ahmad)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More