Sempat Demam Tinggi, Seorang Pelajar di Sukabumi Meninggal Dunia Usai Divaksin

26

LOGIKANEWS.COM – Seorang pelajar berinisial MDA (11) warga kampung Palasari, RT 12/RW 05, Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. meninggal dunia pada Jumat (21/1) setelah mengalami demam tinggi usai menjalani vaksinasi anak Covid-19.

MDA mendapat vaksin anak 6-11 tahun di sekolahnya, Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang berada di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Uak Korban, Deri (36), mengatakan, awalnya hari Sabtu (15/1/2022) MDA seperti biasa berangkat dari rumah neneknya ke sekolah yang berada di wilayah Kecamatan Kadudampit.

“Jadi hari Sabtu itu ia berangkat dan mengikuti vaksin anak yang diselenggarakan di sekolahnya,” ujarnya kepada Tribunjabar.id.

Setelah divaksin, sambung dia, MDA mengalami panas tinggi sampai hari hari Minggu, lalu hari Senin, MDA pun berangkat kembalik ke sekolah seperti biasa.

“Hari Senin itu dia diantar pulang oleh gurunya karena sakit, kondisinya panas,” katanya.

Kemudian, lanjutnya, MDA mendapat perawatan seadanya di rumah. Namun, panasnya semakin tinggi, hingga dibawa ke rumah sakit.

“Kondisinya hari Rabu kemarin menggigil, hingga akhirnya langsung dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan,” ungkapnya.

Setelah dua hari lebih, kondisi MDA semakin menurun, hingga akhirnya meninggal dunia.
“Meningggalnya dini hari tadi, sekitar pukul 03.00 WIB.”

“Langsung setelah pulang dipulasara dan dimakamkan tadi pagi,” pungkasnya.

Sementara, camat Kadudampit Yanti Budiningsih menjelaskan pelaksanaan vaksin oleh vaksinator dari Puskesmas Kadudampit kepada siswa tersebut, telah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Dari hasil skrining tidak ditemukan ada masalah-masalah kesehatan, kemudian anak dalam keadaan sehat sehingga layak untuk divaksin,” ujar Yanti dilansir dari MNC Portal Indonesia.

Ia menambahkan, namun kemudian ketika terjadi KIPI, anak mengalami demam, kedua orangtua korban tidak tahu harus dibawa kemana, dan korban dibawa ke rumah sakit Betha Medika Cisaat. Sedangkan tim yang menangani KIPI tersebut adanya di rumah sakit Sekarwangi, Cibadak.

“Hanya saja saya ingin sampaikan bahwa vaksinasi itu adalah ikhtiar kita bersama, upaya yang harus dilakukan, tujuannya tentu saja ingin menjaga masyarakat dari kesakitan, jangan sampai masyarakat ini terkena Covid-19, namun ketika terjadi keadaan yang tidak diharapkan seperti ini, mungkin ini dari bagian kelemahan dari manusia, mungkin saja ada penyakit bawaan yang tidak terdeksi ketika skrining atau lainnya,” ujar Yanti.

Lebih lanjut Yanti mengatakan bahwa program vaksinasi tersebut diadakan oleh pemerintah untuk melindungi masyarakat dari kematian akibat Covid-19 dan berharap masyarakat harap tenang menyikapi kejadian ini sambil menunggu hasil apakah ini akibat KIPI atau bukan.

“Mari kita sama-sama melaksanakan vaksinasi untuk membangun herd immunity agar kita semua terjaga,” ujarnya.

Ketika disinggung masalah biaya yang harus ditanggung keluarga korban dalam pengobatan setelah melakukan vaksinasi tersebut, Yanti mengatakan bahwa semua fasilitas dan biaya pengobatan yang terjadi setelah melakukan vaksinasi, akan ditanggung pemerintah. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More