Mendikbudristek Ungkap PTM Terbatas Tetap Lanjut Meski Ada Ribuan Sekolah Laporkan Kasus COVID-19.

121

LOGIKANEWS.COM –  Pembukaan sekolah tatap muka di wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1-3. Ribuan sekolah justru menjadi klaster COVID-19 di masa Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas ini.

Menanggapi hal itu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, (Mendikbudristek) Nadiem Makarim lantas menegaskan bahwa PTM terbatas masih akan dilanjutkan. Namun Kemendikbudristek akan terus memantau kasus penularan COVID-19 di sekolah yang menggelar PTM terbatas.

“Itu terus kita monitor. Bukan berarti PTM-nya akan diundur, masih harus jalan. PTM terbatas masih dilanjutkan,” tegas Nadiem di DPR RI, Kamis (23/9).

Nadiem meminta agar sekolah yang menggelar PTM terbatas menguatkan penerapan protokol kesehatan. Selain itu, pihak sekolah juga diminta untuk terbuka kepada pemerintah terkait kondisi di lingkungannya. Apabila ditemukan kasus COVID-19, maka sekolah yang bersangkutan harus segera ditutup.

“Protokol kesehatan harus dikuatkan, tapi sekolahnya masing-masing kalau ada kasus klaster ya harus ditutup segera,” kata Nadiem.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen Pauddikdasdikmen) Kemendikbudristek, Jumeri, memaparkan ada 1.296 sekolah yang melaporkan penularan COVID-19. Dari total 46.580 satuan pendidikan, maka sekolah yang melaporkan COVID-19 hanya kurang dari tiga persen saja.

“Sekolah yang mulai melakukan PTM terbatas sebanyak 46.580 satuan pendidikan. Sementara jumlah laporan dari satuan pendidikan terkait penularan COVID-19 di satuan pendidikan relatif kecil, yaitu 2,8 persen atau 1.296,” terang Jumeri, Kamis.

Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jejen Musfah menilai PTM terbatas di masa pandemi sebagai sebuah dilema. Meski PTM amannya baru dilakukan setelah virus benar-benar hilang, namun pembelajaran online yang berkepanjangan justru bisa berdampak negatif kepada siswa.

“Ini dilema memang, pada satu sisi yang ideal tentu menunggu sampai pandemi ini betul-betul zero ya, tapi tidak ada satu pun negara yang tahu pasti kapan pandemi ini akan berakhir,” kata Jejen dalam diskusi virtual. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More