Mantan Pejabat Dispora Dituntut 6 Tahun Penjara, Denda Rp 300 juta dan subsider 4 bulan penjara

177

LOGIKANEWS.COM – Kuasa hukum mantan Kepala Dinas dan Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Garut, Drs Kuswendi dan Yana Kuswandi yang terseret dugaan korupsi pembangunan Sarana Olah Raga (SOR) Ciateul Kabupaten Garut, Paramaarta Ziliwu, S.H dan Rekan mengatakan, hari Rabu (21/04/2021) kedua kliennya dituntut hukuman penjara 6 tahun, denda Rp 300 juta dan subsider 4 bulan penjara.

Namun pihak kuasa hukum mantan kedua pejabat di Pemkab Garut tersebut masih optimis kedua kliennya tidak bersalah. Rasa percaya dirinya itu, diakui mereka didasarkan pada fakta-fakta di persidangan.

“Dari hasil persidangan, kami mengakui adanya pelanggaran hukum pada pembangunan Sport Hall Dispora, tetapi orang yang disidangkan bukan itu. Apakah terbukti Pak Kuswendi menerima aliran dana dan pengarahan di persidangan. Tidak ada,” tegas Paramaarta Ziliwu, SH usai menggelar Jumpa Pers, di Kantornya, Jl Pramuka, Komplek IBC, Kabupaten Garut.

Menurutnya, peran Kuswendi sangat pasif, sehingga pihaknya menilai pada kasus ini ada pihak ketiga yang memainkan peran. Sehingga pihak kuasa hukum kedua mantan pejabat Garut ini menilai ada pihak yang dikorbankan.

“Lalu kenapa bisa terjadi seperti ini, karena proses penegakan hukumnya tidak tuntas, masih disitu-situ saja, kenapa tidak dikembangkan lagi,” ujar advokat muda ini menegaskan.

Menurutnya, ketika ditanya dasar apa yang digunakan pihak Kejaksaan menetapkan kliennya sebagai tersangka, advokat yang akrab disapa Rama ini menjelaskan, Kejaksaan menetapkan Kuswendi karena tanggung jawabnnya sebagai PA dan diduga mengkondisikan memenangkan salah satu perusahaan yakni PT Joglo Multi Ayu.

“Dan ternyata tidak ada pengkondisian yang dilakukan Pak Kuswendi. Selain itu juga, tidak ada aliran dana, kerugian negara sudah dibayarkan sesuai petunjuk BPK RI. Pekerjaan sudah selesai dan bisa dirasakan manfaatnya,” katanya.

Rama menjelaskan, pihaknya akan menyampaikan hasil dari fakta-fakta di persidangan dalam pledoi serta saksi ahli yang sudah dihadirkan di persidangan. “Hari senin pekan depan kami sampaikan pledoi klien kami. Menurut saksi ali, kerugian negara harus jelas dan nyata serta ada potensial lost,” katanya.

Selain itu, sambung Rama, audit tidak terintegritas, audit pertama dan kedua tidak ada korelasinya. “Jujur saja ada dua audit, reguler dan investigasi. Audit investigasi saya tidak sependapat karena ada administrasi tidak sesuai,” ujarnya.

Diungkapkannya, hasil temuan pendapat auditor tidak sah, karena administesi yang dilanggar. Kerugian negara juga lebih rendah. Hanya saja yang diperdebatkan mengenai Jamlak telat bayar apakah masuk pada kerugian negara atau tidak. “Tapi kami yakin itu bisa berpotensi terhadap potensial lost,” katanya.

Rama menduga ada pihak lain yang sebenarnya sudah kebaca siapa pihak tersebut, tetapi untuk itu pihak yang berwenang yang bisa memproses semuanya. “Intinya sangat minim kesalahan Pak Kuswendi. Saya target dan optimis kedua klien kami lolos,” pungkasnya. (Asep Ahmad)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More