Kantor BPN Bandung Di Geruduk Ahli Waris Djajadi Karta Menuntut Kejelasan

60

LOGIKANEWS.COM – Kantor Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) di JL. Soekarno-Hatta. Kota Bandung digeruduk sejumlah warga yang mengatasnamakan ahli waris pemilik tanah Djajadi Karta, pada Rabu (2/1/2022).

Aksi tersebut berkaitan dengan perjalanan proses hukum, dimana ahli waris menemukan dokumen baru berupa asli Eigendon verponding no 6014 dengan luas tanah 20.120 M2. Adapun akte tersebut tertanggal 18 Januari 1936. No 44 Metbrief (surat ukur) dengan no. 685 tanggal 22 Agustus 1934 dan tertulis atas nama orang pribumi Djajadi Karta Bin Arsadidjaja, yang terletak di Tjikawo, distrik Tegallega, Regenschap Bandung. Westa java yang sekarang berada di Desa Burangrang Kecamatan Lengkong Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.

Salah satu ahli waris Agus Jukarsa mengatakan, pihaknya hanya ingin meminta penjelasan dan klarifikasi dari pihak BPN atas tanah yang di bangun Grand Asia Afrika.

 

“Kami sebagai ahli waris hanya meminta penjelasan dan pertanggung jawaban dari BPN,” kata Agus Jukarsa di sela-sela aksi.

Ia berharap BPN memberikan keterbukaan terkait pembangunan Grand Asia, dimana lahan pembangunan tersebut seharusnya di persil no 6019 . Namun dibangun di persil 6014.

“Harusnya pembangunan itu dibangun di persil 6019 bukan 6014, dan jelas itu sudah salah,” ujarnya.

Bahkan Agus menegaskan bahwa dirinya memiliki surat bukti kepemilikan tanah yang sudah dibangun Grand Asia Afrika.

“Kami tidak akan berani melakukan aksi jika tidak memiliki bukti, kami hanya minta keadilan,” ujarnya.

Sementara, Kasi Penetapan Hak dan Pendaftaran ATR/BPN Kota Bandung, Eddy Sofyan menjelaskan keterkaitan aksi demo yang dilakukan oleh pihak yang mengaku ahli waris dari Djajadi Karta meminta penjelasan proses penerbitan Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama yang di gunakan menjadi apartemen Grand Asia Afrika.

” Pihak ahli waris mengklaim bahwa tanah tersebut merupakan tanah miliknya dengan dasar Eigendon verponding,” kata Edy saat memberikan klarifikasi seperti dikutif dari jarrakposjabar.

Menurutnya, pihaknya hanya menampung dan menindaklanjuti dengan menanyakan maksud dari tujuan dan kedatangan para peserta aksi. Namun, lanjut Edy, setelah di verifikasi ternyata terkait permasalahan ini para aksi pernah berkirim surat kepada pihak BPN.

“Pernah bersurat dan menanyakan tentang proses persidangan yang pernah diakukan oleh para ahli waris,” ucapnya.

Ia juga menerangkan, para ahli waris tersebut pernah kalah dalam berperkara, namun tetapi mereka menemukan bukti baru dengan mendasarkan Eigendon verponding dengan nomor 6014.

”Pihaknya mereka menanyakan tentang keabsahan Eigendon verponding tersebut,” jelasnya.

Selanjutnya, setelah melakukan diskusi, pihak perwakilan para ahli waris meminta kembali audiensi diatur ulang dengan di hadirkannya kuasa hukum dari pihak ahli waris.

“kuasa hukumnya dari pihak ahli waris saat ini berhalangan hadir, jadi kita akan akan menjadwalkan ulang kembali untuk audiensi,” tandasnya.

 

(Yd)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More