Gencarkan Berbagai Aksi, Dinas Kesehatan Garut Optimis Tingkatkan SPM Penanganan TB Tahun 2022

62

LOGIKANEWS.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Garut optimis bisa meningkatkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) penanganan TB di Kabupaten Garut. Tentu, untuk mewujudkan SPM TB, Dinkes Garut bukan hanya melakukan aksi duduk di meja, melainkan aksi turun ke lapangan secara konfrehensif.

Banyak program yang diakselerasikan dengan langkah nyata sukses dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut. Bahkan, bukan hanya optimis bisa meningkatkan SPM Penanganan TB, Dinkes Kabupaten Garut pun optimis bisa melaksanakan program eliminasi TB di tahun 2030 mendatang.

Lalu apa saja program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, sehingga lembaga ini bisa percaya diri mampu meningkatkan SPM Penangan TB dan mewujudkan eliminasi TB di tahun 2030.

Atik Rahmat, M. Kes. (Ft: majalah logika)

Majalah Logika berhasil menemui salah satu pihak terkait di Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Epidemiolog Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, H. Atik Rahmat, M.Kes.

Atik Rahmat adalah salah satu petugas yang terus wara wiri bersama timnya melaksanakan program yang sudah diagendakan di lapangan sesuai dengan tugasnya. Menurut Atik Rahmat, sampai dengan bulan Juli 2022 pihaknya sudah menjalankan langkah-langkah kongkrit diantaranya, membuat tagline GARUT (Gak Ada Ruang  Untuk TB).

“Ini bukan hanya sebatas jargon atau tagline, namun sebuah pembuktian yang kami laksanakan di lapangan. Kami melakukan pencarian, pendataan, pengobatan dan pengawasan pasien TB. Gak Ada Ruang Untuk TB menjadi sarana kami untuk bisa mengejar target agar warga Garut terbebas dari TB,” ungkap Atik penuh semangat, saat ditemui Majalah Logika di Hotel Harmoni Garut, Senin (18/07/2022).

Seirama dengan Tagline Gak Ada Ruang Untuk TB, Dinas Kesehatan  Kabupaten Garut melaksanakan kegiatan Orientasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer  bagi petugas-petugas Puskesmas pembantu/poskesdes dan kader Posyandu, 13-15 Juli 2022 di Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut.

Dalam hal ini, Dinkes Garut tidak bekerja sendiri, tetapi melibatkan berbagai pihak, bahkan sampai menggandeng pihak Kementerian Kesehatan (kemenkes) Republik Indonesia.

“Melalui orientasi ini diharapkan bisa meningkatkan profesionalisme dan pelayanan kesehatan petugas dan kader kesehatan di masyarakat. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Kami terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, salah satunya melalui kegiatan orientasi ini,” ucap Atik Rahmat.

Selama orientasi, sambung Atik, peserta diwajibkan untuk mengikuti semua materi yang diberikan narasumber. Melalui kegiatan orientasi ini juga diharapkan bisa mengelimenasi semua jenis penyakit yang ada di lingkungan masyarakat, khususnya TB. Sehingga, program Gak Ada Ruang Untuk TB terus disosialisasikan.

“Penanggulangan penyakit menular seperti TB tidak bisa mengunggu bola (pasif case finding) artinya kita tidak bisa hanya menunggu masyarakat datang kepelayanan kesehatan saja. Kami dan semua bagian pelayanan kesehatan dan kader juga harus datang melakukan pendataan disertai pengobatan dan pengawasan (aktive case finding),” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Atik berpesan kepada masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi berbagai penyakit. “Melawan penyakit bukan hanya tugas pemerintah saja, melainkan peran semua pihak. Kami berpesan kepada masyarakat agar terus meningkatkan pola hidup sehat dan bersih. Dan jangan lupa untuk selalu memeriksakan kesehatannya,” tandasnya.

LOGISTIK TBC: Pertemuan koordinasi pengelolaan logistik tuberkulosis di Kabupaten Garut dilaksanakan di Hotel Harmoni Kabupaten Garut. (Ft: dok majalah logika)

Optimis Naikan SPM Penanganan TB di Tahun 2022

Tahun 2021, SPM Penanganan TB di Kabupaten Garut Mencapai 92,27 persen. Sedangkan di tahun 2022 sampai bulan Juni sudah mencapai 56,2 persen. Dinkes Garut optimis bisa menaikan SPM Penanganan TB di akhir tahun 2022 melebihi prestasi di tahun 2021.

Langkah selanjutnya, pihak Dinkes Garut menyelenggarakan kegiatan pertemuan koordinasi pengelolaan logistik tuberkulosis di Kabupaten Garut.  Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh estimasi kasus tuberkulosis (TBC) secara global sebanyak 9.870.000 kasus. Pria dewasa menyumbang 56 persen dari semua kasus TB di tahun 2020. Indonesia termasuk kedalam delapan negara yang menyumbang dua pertiga kasus TB di seluruh dunia.

Artinya Indonesia menjadi negara peringkat ketiga setelah India dan China dengan estimasi kasus 824.000. Cakupan penemuan dan pengobatan kasus TB (threatment coverage) berdasarkan global TB report 2021 baru mencapai 47 persen.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami penurunan paling besar kasus TB yaitu 14 persen antara tahun 2019-2020. Medki demikian, Indonesia masih termasuk kedalam lima negara penyumbang kasus TB tertinggi 8.4 persen. Cakupan penemuan kasus dan pengobatan pada tahun 2020 adalah 43 persen,” ujar Atik Rahmat.

Atik menambahkan, cakupan tersebut masih belum mencapai target 85 persen. Pada situasi Pandemi Covid-2019 capaian penanggulan TB menurun, capaian tahun 2021 lebih kecil lagi dibandingkan tahun 2020. Sementara tahun 2020 lebih rendah lagi dibandingkan tahun 2019.

Perkiraan insiden TBC di Jawa Barat tahun 2021 sambung Atik, yaitu 128.057, dengan missing case 41 persen. Sebanyak 56.804 baru ternotifikasi dengan CDR 44 persen. Target sampai dengan bulan Oktober 76 persen. Keberhasilan pengobatan mencapai 65 persen dari target 90 persen. Pasien TB dengan HIV positif yaitu 783 kasus. Sedangkan kasus TB anak yaitu 7.454 kasus. Kasus TB dengan RO 1109 kasus, tetapi pasien yang memulai pengobatan sebanyak 587 pasien (enrollment 53 persen dari target 86 persen.

“Sementara angka penderita TB di Garut masih tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. Dinkes Garut mencatat tahun 2021 terduga TBC sekitar 23.239 dari 2.5 juta penduduk. Sedangkan penemuan kasus mencapai 4.922. Kemudian ada 4.677 kasus TB yang terdiagnosa dan diobati dengan threatment coverage 72 persen,” papar Atik.

Terkait dengan semua persoalan TB di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Garut, USAID GHSC-PSM memberikan dukungan untuk penguatan Supply Chain Management (SCM) logistik TB di Indonesia. Sementara, beberapa dukungan yang diberikan ditingkat pusat antara lain perencanaan logistik TB, peningkatan kepatuhan pencatatan dan pelaporan, pemantauan ketersediaan logistik TB dan desntralisasi logistik TBC RO.

Pertemuan logistik TB tahun 2022 yang dilakukan di tingkat Provinsi Jabar merupakan pengantar untuk pertemuan di tingkat Kabupaten/kota. Setiap Kabupaten/kota juga harus melakukan pertemuan logistik TB agar sesuai dengan pedoman TB.

Untuk melaksanakan program nasional dalam upaya mencapai target program harus didukung dengan penyediaan logistik yang baik dan cukup serta berkualitas. Secara umum logistik program TB yang disediakan oleh kementerian Kesehatan RI terdiri dari OAT (Obat Anti Tuberkulosis) dan Logistik Non OAT. Setelah dilakukan permohonan, maka pengambilan obat langsung ke instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dengan persetujuan dari pengelola Program TB Dinkes Garut.

Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas pengelola program TBC dan pengelola logistik program TBC untuk memperoleh logistik Program TBC yang memadai dan berkualitas di setiap jenjang pelaksana program TBC.

“Melalui kegiatan ini dipastikan kebutuhan obat untuk penangan TBC bisa berjalan optimal. Karena melalui koordinasi logistik TB ini akan akan monitoring dan evaluasi logistik mencakup TB SO (Sensitif Obat) dan RO (Resisten Obat), sosialisasi monitoring tools untuk memantau ketersediaan logistik TB dan praktik SITB modul logistik,” pungkas Atik.

Guna mewujudkan Garut yang sehat tanpa TB dan penyakit menular lainnya, Dinkes Garut juga aktif melakukan fogging diberbagai lokasi, salah satunya di lokasi banjir yang baru-baru ini melanda Kabupaten Garut. (Ft: dok)

Pengendalian Vektor dan Pencegahan Penyakit Menular  di Lokasi Pasca Bencana Banjir

Guna mewujudkan Garut yang sehat tanpa TB dan penyakit menular lainnya, Dinkes Garut juga aktif melakukan fogging diberbagai lokasi, salah satunya di lokasi banjir yang baru-baru ini melanda Kabupaten Garut.

“Kami terus bergerak melawan penyakit menular. Dan yang paling penting kami berupaya dengan keras sebagai bentuk antisipasi. Pepatah mengatakan, mencegah lebih baik dari mengobati,” papar Atik Rahmat, di sela-sela kegiatan foging di RW 09 Keluarahan Ciwalen Kecamatan Garut kota, Kamis (21/07/2022).

Melalui media ini, Atik kembali mengingatkan, bagi masyarakat yang mengalami gejala dan sudah positif terkena TB untuk secepatnya berobat dan jangan takut soal biaya. “Pengobatan TB sudah dibiayai oleh pemerintah, sehingga masyarakat jangan ragu lagi untuk secepatnya berobat,” pungkas Atik .(AsepAhmad).

 

 

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More