Catatan Redaksi: Peranan Trotoar Bagi Pembangunan Garut (Part 1)

185

LOGIKANEWS.COM – Jika kita amati, keberadaan trotoar di sejumlah daerah memiliki lebar yang berbeda-beda. Selain itu, trotoar juga memiliki berbagai perbedaan motif.  Di sekitar Gedung  Sate Bandung, Jawa Barat misalnya, disana terdapat trotoar yang cukup indah, menarik dan nyaman.

Apabila diamati, trotoar yang terlewati terdapat motif batik dan bebatuan kecil yang disusun dengan rapih, sehingga pejalan kaki merasa nyaman. Di sepanjang trotoar seringkali juga didapati taman yang menambah keindahan.

 

Trotoar dan taman di Jalan Pembangunan, tepatnya di Depan Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Garut. (Ft: Asep Ahmad)

Nampaknya pemerintah setempat sangat memperhatikan penghijauan, sehingga trotoar pun nampak asri dan bersih. Lalu, bagaimana kondisi trotoar di wilayah hukum Pemkab Garut..?

Mulai Maret 2021, Redaksi Logika akan melakukan survey ke beberapa daerah di Kabupaten Garut, mulai dari tingkat kecamatan hingga pedesaan. Kami juga akan melakukan interview atau wawancara kepada aparat setempat dan masyarakat terkait manfaat trotoar.

Sebelum itu, kami akan mengulas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 45. Definisi trotoar adalah salah satu fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas. Pada pasal 131 diatur bahwa pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan dan fasilitas lain.

Ancaman sanksi bagi pelanggar atau menggunakan trotoar sebagaimana mestinya antara lain diatur di pasal 274 ayat 2, dimana setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi kelengkapan jalan dipidana dengan penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta.

Kemudian pada pasal 275 ayat 1, setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki dan alat pengaman pengguna jalan, dipidana dengan kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.

 Untuk yang melakukan perusakan, pada ayat 2 dapat dipidana dengan kurungan paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp 50 juta. Peraturan lain mengenai trotoar diatur pada Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan. Berdasarkan pasar 34 ayat 4 disebutkan, trotoar, hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki.

Salah satu warga Garut, Muhammad Wahyudin Khoerul Khadam berpendapat, kondisi trotoar di Pemkab Garut harus disertai dengan penerangan, sehingga membuat nyaman pejalan kaki. “Semisal trotoar di sekitar Maktal, disana disediakan kursi duduk dan lampu penerangan. Pemandangan ini cukup nyaman, di waktu malam ketika banyak orang berkerumun pejalan kaki merasa enjoy karena suasananya terang,” ujarnya.

Wahyu berharap, Pemkab Garut khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Pertamanan (DLHKP) dan Dinas Perhubungan (dishub) bisa berkoordinasi agar fasilitas kursi dan lampu selalu disediakan. “Trotoar yang bersih disertai taman dan lampu penerangan akan terasa nyaman dan bisa menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, sepanjang trotoar disertai dengan lampu penerangan akan terlihat rapih. Penerangan itu bisa membuat orang yang hendak berbuat tidak senonoh untuk berfikir ulang,” tandasnya. (Asep Ahmad-Bolan)

 (bersambung)

 

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More