62 Persen Tindak Pidana Korupsi di Indonesia Adalah Suap

409

LOGIKANEWS.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri mengungkapkan, tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia didominasi tindak pidana suap. Sebanyak 62 persen tindak pidana korupsi terkait dengan suap pengadaan barang dan jasa serta perizinan.

Hal itu diungkapkan Firli dalam sesi wawancara bersama Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu dalam acara Special Dialogue bertajuk “Firli Menjawab Keraguan Publik,” ditayangkan di Beritasatu TV, Senin (6/6/2022).

Dipaparkan Firli, UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengatur setidaknya 30 jenis tindak pidana korupsi dan tujuh cabang tindak pidana korupsi. Beberapa di antaranya, korupsi pengadaan barang dan jasa, perizinan, jual beli jabatan, pengesahan APBD, suap, dan gratifikasi.

“Dari sekian banyak ini yang paling sering terjadi adalah tindak pidana suap. Itu hampir 62 persen dan itu banyak masuk dalam pengurusan izin maupun pengadaan barang dan jasa,” kata Firli.

Firli menekankan, tindak pidana suap tidak pernah terjadi tanpa peran pihak pemberi dan penerima. Dalam hal pengurusan perizinan misalnya, perizinan baru diterbitkan jika pemberi izin menerima sesuatu atau akan menerima sesuatu.

Untuk itu, upaya mencegah terjadinya suap adalah pembenahan sistem perizinan agar menutup celah korupsi. Selain itu, membangun integritas dan budaya antikorupsi.

“Jadi apa yang harus kita benahi. Satu terkait izinnya, sistemnya, kedua integritas dan budayanya,” tegasnya Firli.

Menurut Firli, Indeks Perilaku Antikorupsi (IPAK) Indonesia pada 2021 pada angka 3,88 atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada pada angka 3,84. Dengan demikian, persepsi dan pemahaman antikorupsi masyarakat Indonesia semakin baik. Namun, sayangnya, angka tersebut tidak sebanding dengan perubahan perilaku.

“Kalau demikian berarti, budanyanya, perilakunya yang harus kita ubah. Itulah yang dikerjakan oleh KPK sekarang,” paparnya. (*)

 

TONTON JUGA VIDEO YOUTUBE KAMI

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More